Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5


Oleh: Umarulfaruq Abubakar*

عن عدي بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِي قَالَ قَالَ رَسولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم:  يا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ لنا على عَمَلٍ فَكَتَمَنَا منه مَخِيطاً فما فَوْقَهُ كَانَ غُلُوْلاً  يأتي بِهِ يوم الْقِيَامَةِ.
Dari ‘Adiy bin Amirah ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang kami minta mengerjakan sesuatu untuk kami, kemudian ia menyembunyikan satu alat jahit (jarum) atau lebih dari itu, maka perbuatan itu adalah Ghulul (korupsi), harus ia pertanggung jawabkan nanti pada Hari Kiamat”. (HR. Muslim).

Dalam hadits ini Rasulullah Saw., dengan tegas melarang umatnya mengambil sesuatu yang bukan haknya, walaupun hanya sebesar jarum. Ibnul Atsir dalam kitab “An-Nihaya fi Gharibil Hadits” menerangkan, kata “Al-Ghulul”, pada asalnya bermakna khianat dalam urusan harta rampasan perang, atau mencuri sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagikan. Kemudian, kata ini digunakan untuk setiap perbuatan khianat dalam suatu urusan secara sembunyi-sembunyi.

Jadi, kata ghulul di atas kini digunakan untuk tindakan pengambilan sesuatu yang ada di bawah kekuasaannya dengan cara yang tidak benar menurut syari’at Islam. Dalam bahasa kita sekarang: korupsi. Hadits ini menyampaikan dengan jelas bahwa hukum mengambil tambahan di luar imbalan upah itu adalah haram.

Akibat Harta Haram

Tindakan korupsi ini biasanya memang terjadi ketika seseorang diberikan sebuah kepercayaan atau diminta memegang sebuah jabatan. Akibat tidak qana’ah dengan gaji yang diterima, ia pun berusaha mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan jabatannya. Padahal gaji yang ia dapatkan sudah besar.

Ketika melakukan korupsi, sebenarnya ia sedang menghinakan dirinya sendiri, baik di hadapan manusia lebih-lebih di hadapan Allah yang Maha Melihat apa yang ia lakukan. Inginnya mendapatkan harta yang banyak dan kedudukan yang mulia di hadapan manusia, namun justru dengan perbuatan korupsi menunjukkan kemiskinan jiwanya, kefakiran harga dirinya, membuat aib dan memberikan kehinaan bagi dirinya sendiri. Dalam hadits shahih riwayat Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah Saw. menyatakan.
.. فَإِنَّ الْغُلُولَ عَارٌ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشَنَارٌ وَنَارٌ


Sesungguhnya ghulul (korupsi) itu adalah kehinaan, aib dan api neraka bagi pelakunya" (HR. Ibnu Majah).

Pengambilan harta dengan cara yang tidak benar selain mendatangkan dosa, mengundang bencana, berakibat api neraka, juga membuat harta kehilangan berkahnya. Makanan haram yang masuk ke dalam tubuh dapat mengacaukan pikiran, menimbulkan rasa gelisah dalam hati, menyebabkan doa tertolak dan tidak diterima oleh Allah. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa makanan setelah masuk ke dalam tubuh akan terbagi menjadi tiga, bagian yang keras dan kasar kita buang ke WC. Bagian yang halus akan menjadi darah dan daging, sementara bagian yang lebih halus lagi akan menjadi sperma. Oleh karena itu Al-Qur’an memberikan peringatan dengan tegas persoalan makanan ini. Allah menyatakan:
 
فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (QS. Abasa: 24)

Zuhud Abad Modern

Semakin majunya teknologi, ketersediaan kebutuhan yang melimpah, canggihnya sarana transportasi dan komunikasi ternyata bukan jaminan mendapatkan ketenangan hati. Perasaan resah dan gelisah ternyata menghinggapi umat manusia abad ini. Gangguan jiwa akut menyerang banyak orang, stress dan depresi menimpa, bahkan sampai ke tingkat bunuh diri yang semakin meningkat waktu ke waktu. Belum terhitung kompetisi negatif dan permusuhan akibat berebut proyek, mengejar harta yang tidak pernah putus-putusnya.

Abu Wafa At-Taftazani pernah menyatakan bahwa ada empat hal yang menjadi sebab kegelisahan masyarakat modern. Pertama, kegelisahan karena takut kehilangan apa yang dimiliki, seperti uang dan jabatan. Kedua, kegelisahan karena timbul rasa takut terhadap masa depan yang tidak disukai (trauma imajinasi masa depan). Ketiga, kegelisahan yang disebabkan oleh rasa kecewa terhadap hasil kerja yang tidak mampu memenuhi harapan kepuasaan dan kepuasaan spiritual. Keempat, kegelisahan yang disebabkan karena diriya dipenuhi oleh pelanggaran dan dosa.

Cinta dunia dan Takut Mati, dua sebab yang menimbulkan berbagai kerakusan dan pada gilirannya mengakibatkan terjadinya kegelisahan ini. Sebaliknya perasaan zuhud terhadap dunia dan keyakinan bahwa kita hidup hanya untuk sementara waktu dapat meredamkan besarnya ambisi dan rakus. Maka seorang yang bertabur kekayaan, memiliki berbagai akesoris barang yang mahal, memiliki jabatan dan tingkat sosial yang terpandang, namun tidak menerima dan merasa cukup dengan karunia yang ada, maka kekayaan itu tidak dapat membuatnya menikmati hidup. Bahkan ia akan menjadi budak oleh keinginannya sendiri.

Maka alangkah beruntung dan bahagianya orang yang memiliki perasaan qana’ah. Ia akan hidup merdeka, terbebas dari keinginan-keinginan nafsunya yang tidak pernah mengenal puas. Ia tidak lagi menjadi budak harta, jabatan, dan nama besar yang sering menyiksa hidupnya.

Benar kata Rasulullah Saw.
طُوْبَى لِمَنْ هُدِيَ لِلْإِسْلَامِ وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا وَقَنِعَ

“Berbahagialah orang yang diberi petunjuk kepada keislaman, kehidupannya tercukupi, dan dia qanaah dengan kehidupannya” (HR. at-Tirmidzi dengan sanad hasan shahih).

Sungguh, masih banyak orang yang lebih miskin, tingkat sosialnya lebih rendah, lebih menderita dalam hidup, mengidap penyakit yang berbahaya, tidak punya sanak saudara dan keluaga, dan hidup jauh lebih sengsara dari kita. Daripada mengejar harta haram yang hanya mendatangkan dosa dan menyebabkan kehinaan dunia akhirat, maka mengapa tidak melihat karunia yang ada ini lalu bersyukur kepada Allah karena masih diberikan banyak nikmat.

Bagi yang sudah terlanjur melakukan korupsi maka segeralah bertobat. Caranya adalah dengan menyesali perbuatan tersebut, berhenti melakukannya, mengembalikan hak orang lain yang pernah ia ambil kepada pemiliknya, dan banyak-banyak bersedekah. Jika tidak, maka harta haram itu akan mendarah daging, membawa celaka, mendatangkan aib dan kehinaan kepada diri dan keluarga sampai ke anak cucu.

______
*Umar  Alfaruq atau Kak Muma, saat ini aktif di Pondok Pesantren Tahfizul Qur'an Ibnu Abbas Klaten-Jawa Tengah sebagai Ketua Unit Tahfizul Qur’an. Aktif menulis di Majalah Nida’ul Qur’an dan website hapalalquran.com

About Anas Ekhwanggie

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

.

.

Top