ads

banner5

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5


Oleh; Nandang Burhanuddin *
Mungkin kita terheran-heran, mengapa Letjen As-Sisi begitu lancang dan hatinya sama sekali tak tergugah dengan pembantaian yang dilakukan prajuritnya? Mengapa ia tak terenyuh dengan jumlah jutaan demonstran proMoursi yang menolak kudeta? Mengapa As-Sisi bergeming, padahal Mesir di tangannya menuju ambang kehancuran? Lalu tidak adakah perwira militer yang masih memiliki nurani?

Setelah saya cari-cari sumber tentang struktur militer Mesir sejak era revolusi Muhammad Nagueb, Ketua Dewan Jenderal yang kemudian dikudeta oleh Gamal Abdun Nasser hingga 30 tahun era Mubarak, tentara militer Mesir terpolarisasi dalam 4 bentuk: 

1. Dewan Jenderal dan Perwira Utama.

2. Perwira Menengah yang menjadi komandan divisi yang loyalitasnya diberikan kepada Dewaan Jenderal dan Perwira Utama. 

3. Perwira yang tidak memiliki pengaruh atau sudah masuk kotak. 

4. Prajurit yang hanya menjalankan perintah. 

Elemen pertama merupakan sekutu dekat AS, jika tidak ingin dikatakan Budak AS. Mereka bekerja demi kemaslahatan dan kepentingan AS. Maka setiap kesepakatan dibuat harus seiring dengan keinginan AS yang saat ini menjadikan Israel sebagai anak emas atau AS sudah menjadi budak Israel. Selain kepada AS, elemen ini sangat loyal kepada pemimpin-pemimpin Arab. 

Mereka menguasai 45 % sumber ekonomi. Memiliki bisnis dan menerima bantuan terbesar di era Republik. Selama 60 tahun militer berkuasa, Gedung Putih dan Militer Mesir selalu berada dalam suasana bulan madu. 

Tokoh-tokohnya adalah: Marsekal Thanthawi, Sami 'Anan, Mubarak, Sadat, Nasser, As-Sisi, dan Jenderal serta perwira yang mendukung kudeta saat ini. 

Pola kerja masing-masing berbeda. Namun ujungnya sama: menjadikan Mesir negara terbelakang, tergantung kepada AS-Barat-LN, tidak memiliki kemandirian sedikitpun. Bahkan saat Mesir menang melawan Israel dalam perang 6 Oktober. Jika kita lihat sejarah, justru Mesir dan militernya menjadi "pengabdi" Israel. Sinai dikembalikan ke Mesir, namun Mesir "dilarang" melakukan aktivitas pembangunan apapun; baik pertanian ataupun infrastruktur lainnya. Mesir hanya berkuasa di atas kertas. Sedangkan di lapangan, Israel justru yang berkuasa.

Militer Mesir sejak Republik berdiri tidak pernah meninggalkan kekuasaan, kecuali setelah Revolusi 25 Januari. Maka saat Moursi bersemangat membangun Sinai-Kanal Suez dan sekitarnya, Israel murka. Alasannya mudah saja. Jika Sinai-Kanal Suez dibangun, Israel terancam keamanan baik ekonomi-militer-maupun akses ke Gaza dan Palestina. 

Maka wajar bila As-Sisi berang saat diperintahkan ke Turki oleh Moursi. Sebagai orang intelejen murni, As-Sisi paham bahwa militer Mesir nasibnya akan seperti militer Turki. Setelah kepergiannya ke Turki, As-Sisi seperti dikatakan tokoh Salafy murni SYaikh Hazem Ismail, As-Sisi sering tampil seperti selebritis tampil di wawancara TV. Ternyata di balik itu semua, ia hanya pion dari mantan dewan jenderal yang dilengserkan Moursi yang kini berkumpul di Emirat bersama para direktur Mossad. 

Jalan masih panjang. Namun Ikhwanul Muslimin selalu pandai menjadi penentu momentum dengan peran-peran jihadnya yang tak kenal lelah. Hikmah di balik kudeta bagi Ikhwanul Muslimin, adalah kemunculan tokoh-tokoh muda yang enerjik yang insya Allah akan ditulis kemudian. 

* kontributor Islamicgeo

About Anas Ekhwanggie

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

.

.

Top